Pembukaan Gau Maraja 2026, Momentum Pelestarian Budaya dan Sejarah

BERITA297 Dilihat

HumasBone — Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Bone Hj. Maryam Andi Asman, bersama Wakil Bupati Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., didampingi Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Bone Hj. Maya Damayanti Andi Akmal, menghadiri pembukaan Gau Maraja Bone Tahun 2026 di Lapangan Merdeka Watampone, Sabtu (26/9/2026).

Pembukaan Gau Maraja Bone 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat pelestarian sejarah, budaya dan adat istiadat Kabupaten Bone. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, budayawan, tokoh adat, seniman dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Kementerian Pertanian, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Sarana Budidaya Pertanian (BRMP), perwakilan Direktorat Warisan Budaya Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, jajaran Kementerian Kebudayaan RI, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kebudayaan RI, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan Kementerian Kebudayaan RI. Hadir pula Anggota DPR RI dan sejumlah pejabat lainnya.

Turut hadir Bupati/Wakil Bupati se-Sulawesi Selatan maupun yang mewakili, Bupati Kotabaru dan Bupati Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, Bupati Bone periode 2013–2023 A. Fahsar Mahdin Padjalangi, Anggota DPRD Sulawesi Selatan, sejumlah Anggota DPRD dari luar Provinsi Sulawesi Selatan, Forkopimda Bone, pimpinan BUMN dan BUMD, pimpinan instansi vertikal, serta para budayawan, tokoh adat dan seniman.

Pemerintah Kabupaten Bone berharap pelaksanaan Gau Maraja Bone 2026 tidak hanya menjadi perhelatan budaya, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan penguatan identitas daerah. Melalui kolaborasi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, warisan sejarah dan budaya Bone diharapkan terus hidup, berkembang dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari pembangunan daerah yang berlandaskan nilai budaya dan kearifan lokal.(wf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *