PM-AAS, Inovasi Budidaya Padi Modern untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Kabupaten Bone

ARTIKEL41 Dilihat

HumasBone – Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian (Katimker) dan Kelompok Jabatan Fungsional Kabupaten Bone terus mendorong penerapan sistem budidaya padi Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) sebagai bagian dari transformasi pertanian menuju modernisasi dan percepatan swasembada pangan nasional.

PM-AAS merupakan metode budidaya padi intensif berbasis teknologi yang mengadopsi pola pertanian Arkansas, Amerika Serikat. Sistem ini mengombinasikan metode Tabela (Tanam Benih Langsung), pola tanam rapat dengan populasi tinggi, serta mekanisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti alat sebar benih, drone pertanian, rice transplanter, hingga combine harvester. Melalui pendekatan tersebut, proses budidaya menjadi lebih efektif, efisien, dan mampu meningkatkan produktivitas lahan.

Konsep utama PM-AAS adalah meningkatkan jumlah populasi tanaman melalui sistem tanam rapat sehingga jumlah rumpun padi per hektare menjadi lebih banyak dibandingkan pola tanam konvensional. Seluruh tahapan budidaya didukung oleh mekanisasi, mulai dari penebaran benih, pemupukan, aplikasi pestisida menggunakan drone, hingga proses panen menggunakan combine harvester. Selain itu, sistem ini menerapkan pengelolaan air dengan metode Alternate Wetting and Drying (AWD), yaitu pengairan berselang yang mampu menghemat penggunaan air irigasi tanpa mengurangi pertumbuhan tanaman.

Dengan penerapan teknologi tersebut, produktivitas tanaman padi diproyeksikan mampu mencapai 8 hingga 10,5 ton gabah per hektare, lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas nasional yang berada pada kisaran 5,2 ton per hektare. Tidak hanya meningkatkan hasil panen, PM-AAS juga memberikan efisiensi biaya produksi melalui pengurangan penggunaan tenaga kerja dan percepatan proses budidaya dengan dukungan mekanisasi.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, terdapat beberapa rekomendasi teknis yang harus diterapkan petani, yaitu penggunaan benih minimal 70 kilogram per hektare, pupuk organik padat minimal 1 ton per hektare, pemberian dolomit pada lahan dengan pH di bawah 5,5, pemupukan menggunakan Urea 300 kilogram per hektare dan NPK 400 kilogram per hektare, aplikasi Silika 800 gram per hektare, penggunaan herbisida pra tumbuh 1 liter per hektare, herbisida purna tumbuh 2 liter per hektare, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman melalui penggunaan insektisida dan fungisida sesuai rekomendasi.

Sebagai bentuk implementasi program PM-AAS di Kabupaten Bone, telah dilaksanakan Gerakan Tanam Serentak yang dipusatkan di Desa Welado, Kecamatan Ajangale, dan dipimpin langsung oleh Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. Kegiatan tersebut diikuti secara serentak oleh sembilan kecamatan melalui konferensi Zoom, yaitu Ajangale, Dua Boccoe, Tellu Siattinge, Cenrana, Kahu, Tonra, Bontocani, Lamuru, dan Lappariaja.

Melalui pendampingan penyuluh pertanian dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, penerapan PM-AAS diharapkan mampu meningkatkan produktivitas padi, menekan biaya produksi, mempercepat adopsi teknologi di tingkat petani, serta memperkuat posisi Kabupaten Bone sebagai salah satu sentra produksi pangan nasional.(wf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *