MAKNA TEMA DAN LOGO HARI JADI BONE KE-696

ARTIKEL, BERITA, HJB964 Dilihat

HumasBone – Tema Hari Jadi Bone (HJB) ke-696 tahun 2026 “To Masseddi Patarompoi Wanua Bone” yang dielaborasi melalui semangat “Tumbuh Berdaya, Melaju” merefleksikan fondasi nilai budaya Bugis yang sangat mendalam dan relevan dengan konteks kekinian.

Secara etimologis dan kultural, “To Masseddi Patarompoi Wanua Bone” dapat dimaknai sebagai ajakan kolektif untuk bersatu (masseddi), saling menopang dan menguatkan (patarompoi), demi kejayaan negeri Bone (wanua Bone). Ini bukan sekadar slogan, melainkan representasi dari sistem nilai Bugis seperti sipakatau (saling memanusiakan), sipakainge’ (saling mengingatkan), dan sipakalebbi (saling memuliakan), yang sejak dahulu menjadi pilar harmoni sosial.

Tema ini juga memiliki resonansi historis yang kuat dalam perjalanan Kabupaten Bone sebagai salah satu pusat peradaban Bugis yang menjunjung tinggi solidaritas, loyalitas, dan keberanian kolektif. Dalam konteks kekinian, semangat ini diterjemahkan sebagai kebutuhan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor pemerintah, masyarakat dan generasi muda dalam menghadapi tantangan global.

Singkatnya, tema HJB ke-696 ini adalah seruan kultural untuk merawat warisan, memperkuat persatuan, dan menggerakkan Bone menuju masa depan yang berdaya dan bermartabat.

Makna logo Hari Jadi Bone: 

1. Struktur Visual: Gerak, Kesatuan, dan Keberlanjutan

Bentuk angka 6–9–6 didesain dengan lengkungan yang saling terhubung, membentuk alur yang tidak terputus. Ini melambangkan:

* Kesinambungan sejarah Bone sebagai peradaban Bugis yang tidak pernah terputus dari masa lalu ke masa kini.

* Gerak melingkar yang dinamisDalam konteks tema: menunjukkan bahwa Bone bukan entitas statis, tetapi terus bertumbuh dan bertransformasi.

“To Masseddi Patarompoi Wanua Bone”,
visual ini merepresentasikan masseddi (persatuan) yang tidak terfragmentasi, melainkan menyatu dalam satu arus gerak kolektif.

 

2. Makna Warna: Harmoni Tradisi dan Modernitas

Logo ini didominasi oleh dua spektrum warna utama:

Hijau

* Melambangkan kesuburan, kehidupan, dan keberlanjutan budaya.

* Dalam konteks Bugis, ini dapat dikaitkan dengan nilai ketahanan adat dan spiritualitas.

Biru

* Simbol kemajuan, intelektualitas, dan keterbukaan terhadap dunia luar.

* Menggambarkan arah Bone menuju masa depan global.

Kombinasi ini secara filosofis mencerminkan:

“Tumbuh Berdaya, Melaju”
yakni pertumbuhan yang berakar pada tradisi (hijau), namun bergerak progresif ke depan (biru).

 

3. Ornamen Lokal: Identitas Bugis yang Diinternalisasi

Pada bagian dalam lengkungan angka terdapat motif yang menyerupai ornamen ukiran tradisional Bugis.

Maknanya:

* Ini adalah representasi warisan budaya (local wisdom) yang tidak ditinggalkan.

* Secara simbolik, ini adalah bentuk visual dari:

* sipakatau (memanusiakan)

* sipakainge’ (mengingatkan)

* sipakalebbi (memuliakan)

Dengan demikian, “patarompoi” (saling menopang) tidak hanya hadir sebagai konsep, tetapi tertanam dalam struktur visual logo itu sendiri.

 

4. Kilau Cahaya: Optimisme dan Momentum

Efek kilau (highlight) pada beberapa titik angka menunjukkan:

* Energi, harapan, dan optimisme

* Momentum menuju masa depan

Ini menandakan bahwa:

Persatuan (masseddi) bukan hanya kondisi, tetapi daya dorong (driving force) untuk melaju.

 

Logo HJB ke-696 ini dapat dibaca sebagai teks budaya visual yang mengartikulasikan identitas Bone secara utuh:
ia merangkum memori kolektif, nilai sosial, dan orientasi masa depan dalam satu bentuk simbolik.

Dengan demikian, logo ini bukan sekadar identitas perayaan, tetapi:

representasi ideologis dari gerakan kultural Bone dari persatuan menuju keberdayaan, dari tradisi menuju kemajuan.(Sumber Dinas Kebudayaan Kabupaten Bone)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *