Tinjau Posko Siaga Bencana, Bupati Bone Susur Sungai Walenae

629

Bupati Bone Dr. H.A. Fahsar M. Padjalangi,M.Si. bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah(Forkopimda) menyusuri Sungai Walanae di wilayah Bone utara, Kamis, 9 Januari 2020.

Turut dalam rombongan di antaranya Wakil Bupati Bone Drs.H.Ambo Dalle,M.M. yang juga Ketua PMI Bone, Kasrem 141 Toddoppuli Letkol Inf. Bobbie Triyantho, Kapolres Bone AKBP I Made Ary Pradana, S.I.K., M.H., Ketua DPRD Bone Irwandi Burhan, S.E.,M.M., Danyon C Pelopor Kompol Nur Ichsan serta sejumlah pejabat OPD.

Turut pula dalam rombongan tersebut Kepala Pelaksana BPBD Bone Dray Vibrianto, S.I.P., M.Si., Koordinator Basarnas Bone Andi Sultan, Kadis Sosial A. Promal Pawi, Kadis SDA Bone Yusuf, Kadis Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Andi Ikhwan Burhanuddin,S.H.,M.Si., Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang H. Askar, S.T., M.Si., Kasat Pol PP A. Akbar, S.Pd., M.Pd., serta para Camat yang wilayahnya berada pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Walanae, yakni Ajangale, Dua Boccoe, Cenrana, dan Tellu Siattinge.

Bupati Bone (rompi kuning) menyusuri Sungai Walenae

Di mana keempat kecamatan tersebut berada pada wilayah utara Kabupaten Bone yang rawan terhadap risiko banjir yang tidak hanya disebabkan curah hujan yang tinggi namun sering mendapat banjir kiriman dari kabupaten Wajo dan Soppeng.

“Kami bersama forkopimda lainnya untuk mengecek setiap posko siaga bencana serta melihat langsung kondisi Sungai Walanae. Sehingga ketika terjadi banjir kita melakukan antisipasi sesuai dengan kondisi di lapangan,” kata Bupati Bone.

Untuk memastikan kesiapan setiap posko siaga bencana yang sudah dibentuk, Bupati bersama rombongan naik perahu menyusuri Sungai Walanae mulai dari Ajangale sampai Cenrana.

“Posko Siaga Bencana kita bentuk dalam rangka mengantisipasi kondisi dan kemungkinan terburuk pada musim hujan mendatang” ujar Bupati Bone.

Lanjutnya mengatakan “Posko ini tujuannya untuk mempercepat proses pelayanan apabila ada informasi terkait kebencanaan dan yang terpenting dari posko itu ada porsonel dan alat komunikasi, serta bagaimana membentuk jaringan dengan masyarakat,” jelasnya.

Diketahui, sejumlah posko siaga bencana tersebut tersebar disejumlah titik di wilayah utara Kabupaten Bone yang selama 50 tahun terakhir menjadi langganan banjir yang menimbulkan bencana baik korban jiwa maupun harta benda. Hal itu disebabkan akibat pendangkalan Sungai Walanae.

Setiap posko siaga bencana telah dilengkapi peralatan kebencanaan seperti alat berat, perahu banjir, sarana, dan prasarana lainnya termasuk sejumlah porsonel tagana secara terpadu termasuk lembaga sosial dan PMI Kabupaten Bone.

Sementara Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bone mengatakan ” kami segera menindaklanjuti arahan Bapak Bupati terkait kekurangan yang ada, selain kita harus belajar dari pengalaman lalu juga menyingkapi kondisi lapangan dan cuaca yang tak menentu” ujar Dray Vibrianto.

Sungai Walenae yang hulunya di Kecamatan Bontocani melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone.

Sungai yang merupakan salah satu urat nadi perekonomian masyarakat di tiga kabupaten itu, dahulu sering dipergunakan sebagai sarana transportasi antar pulau. Kapal-kapal yang mengangkut kayu olahan dari Sulawesi Tenggara dan Kalimantan, sering melalui sungai tersebut. Begitu pula hasil-hasil pertanian seperti beras dari tiga kabupaten itu juga diangkut oleh kapal-kapal itu untuk dijual ke Kalimantan, Maluku bahkan hingga Papua.

Sebagai tambahan, Walenae berasal dari kata Wae dan Lenna. Wae artinya air sedangkan Lenna artinya sungai. Sungai yang agak kecil disebut “salo” dan sungai besar disebut “lenna”.

Sungai Cenrana dan Walenae di zaman dahulu kapal-kapal besar pengangkut logistik tentara Belanda bisa berlayar dari Teluk Bone masuk Pallime, Uloe sampai sandar di Ajangale.

Bahkan di tahun 70-an kapal besar masih bisa sandar di Uloe sekitar pasar. Namun saat ini terjadi pendangkalan sungai sehingga hanya perahu kecil yang bisa melintas.

BAGIKAN