Gubernur Sulawesi Selatan Dr.H.Syahrul Yasin Limpo,S.H.,M.H.,M.Si. menghadiri prosesi Mattopang Arajang yang digelar di Museum Arajangnge, Jalan Petta Ponggawae No.1 Watampone, Selasa 3 April 2018.

Prosesi Mattompang Arajang merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari jadi Bone yang dilaksanak setiap tahunnya.

Mattompang Arajang adalah ritual adat membersihkan benda-benda pusaka peninggalan kerajaan Bone.

Ritual adat yang sakral itu melibatkan para bissu, pemangku adat Bone, Pejabat Bone, Pejabat Sulsel, yang disaksikan oleh tetamu yang hadir dari seluruh penjuru.

Dalam prosesi Mattompang Arajang itu, Bupati Bone non aktif (yang sementara cuti Pilkada) Dr.H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi,M.Si. mengalungkan ‘selempang emas’ kepada Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

Sementara Penjabat sementara Bupati Bone Ir.H.A Bakti Haruni,C.E.S. dalam sambutannya mengatakan, bahwa mattompang arajang merupakan bentuk khazanah budaya Bone yang dilakukan secara turun temurun.

“Prosesi adat mattompang ini bukan mengultuskan benda-benda tetapi semata-mata sebagai penghargaan kepada leluhur atas kebesaran yang telah mereka raih dan wariskan sampai saat ini,”kata A.Bakti Haruni.

“Ini tetap selalu dipertahankan dan dilestarikan, meskipun dalam dimensi masa kini, kegiatan seperti ini tak kan luntur hingga masa akan datang” tuturnya.

Adapun benda-benda pusaka peninggalan kerajaan Bone yang disucikan atau dibersihkan pada saat prosesi mattompang arajang yaitu;

1. TEDDUNG PULAWENG (Payung emas)

Merupakan payung pusaka kerajaan Bone yang telah ada sejak zaman kejayaan raja Bone XV La Tenri Tatta Arung Palakka (1645-1696).
Pusaka ini merupakan suatu pusaka karajaan yang diterima oleh kerajaan Bone sebagai bentuk penghargaan dari kerajaan pariaman yang merupakan wujud sikap persaudaraan antara kedua kerajaan.
Sesudah pemerintahan raja Bone ke-15, maka pusaka ini menjadi suatu alat perlengkapan resmi pengangkatan dan pelantikan raja-raja hingga ke masa raja terakhir.

Adapun susunan dan bentuk Teddung Pulaweng, yaitu :
-Tongkat payung mempunyai tinggi 18 ruas yang terbuat dari emas.
-Daun payung bermahkotakan emas, di kelilingi 11 anting emas.
-Meliputi 72 helai jari-jari yang di lengkapi dengan 71 buah anting-anting kecil serta 57 buah anting-anting besar yang terbuat dari emas.
-Pada kain payung, tampak di hiasi dengan 2 susunan lilitan rantai emas, sebagai tanda kesatuan persaudaraan antara kerajaan Bone dan kerajaan Pariaman.

2. SEMBANGENG PULAWENG (Selempang emas)

Merupakan pusaka kerajaan Bone pada masa Raja Bone yang ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka. Pusaka ini dipersembahkan kepada pemerintah kerajaan Bone sebagai penghargaan atas keberhasilan kerajaan Bone membangun kerja sama dengan raja Pariaman.

Pusaka ini kemudian menjadi perlengkapan resmi dalam upacara pelantikan dan penobatan raja-raja Bone. Adapun susunan dan bentuknya adalah sebagai berikut :
-Terbuat dari emas berbentuk rantai-rantai yang berbentuk rantai-rantai yang berukuran besar dengan jumlah 63 potongan, panjang 1,77 meter mencapai 5 kg.
-Pada ujungnya tergantung 2 buah medali emas bertuliskan bahasa belanda sebagai tanda penghormatan kerajaan belanda kepada Arung Palakka raja Bone ke-15.

3. LA TEA RIDUNI (Kalewang)

Sebuah kalewang yang disebut ALAMENG, sarung serta hulunya berlapis emas dan di hiasai intan permata. Pusaka ini merupakan pusaka Raja Bone yang ke-15 La Tenri Tatta Arung Palakka.

Pusaka selalu di kebumikan bersama raja yang mengangkat, namun setiap kali itupun memunculkan diri di atas makam yang diliputi cahaya terang benderang. Sehingga atas kejadian itu, maka pusaka ini disebut La Tea Riduni (yang tak untuk di kebumikan).

Pusaka ini kemudian di simpan dan mendapatkan pemeliharaan, serta dipergunakan sebagai perlengkapan resmi dalam upacara pelantikan dan pengangkatan raja-raja Bone.

4. LA SALAGA (Tombak)

Merupakan sebuah tombak yang pada pegangan dekat mata tombak dihiasi emas. Tombak ini merupakan simbol kehadiran Raja Bone.
Tombak tersebut diberikan nama LA SALAGA dikarenakan pada saat perang raja-raja terdahulu sering menggunakan tombak ini dengan mempunyai kelebihan bahwa pada saat dilepaskan oleh pemiliknya tombak tersebut akan mencari sasaranya sendiri.

5. ALAMENG TATARAPENG (Senjata adat tujuh atau Ade’ Pitu)

Pusaka kerajaan ini adalah sejenis kalewang yang hulu serta sarungnya berlapis emas, dan merupakan kelengkapan pakaian kebesaran anggota Ade’pitu.

Selain itu adapula perlengkapan-perlengkapan yang dipakai oleh Bissu. Bissu adalah sebutan bagi pemimpin agama bugis kuno yang di percaya oleh para raja untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan demi memuji sang pencipta.

Prosesi Mattompang Arajang dalam rangka memperingati Hari Jadi Bone Ke-688 Tahun tersebut dihadiri sejumlah tokoh adat Nusantara dan Luar Negeri.

Selain itu, hadir pula Calon Gubernur Sulsel H.Nurdin Halid, Bupati dan Walikota, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulselbar, pejabat Pemkot Makassar, serta tamu undangan lainnya.

Kehadiran para tamu dari berbagai penjuru ini merupakan bagian dari langkah untuk mempererat tali persaudaraan se-Nusantara dan masyarakat Bone.

Tamu yang hadir umumnya memiliki kekerabatan dengan Bone dan diyakini bahwa silaturahmi yang terus terjaga akan membawa kebaikan pada daerah masing-masing dan tentu bagi Sulawesi Selatan.

Usai menghadiri prosesi Mattompang Arajang, Gubernur Sulsel bersama rombongan mengunjungi objek wisata Tanjung Pallette yang berjarak 12 km dari kota Watampone.

Baca Juga :

Sejarah dan Makna Simbolik Mattompang Arajang