Makna Tema pada Peringatan Hari Jadi Bone Tahun 2018

1012

” DENGAN HARI JADI BONE KE-688, KITA PERTEGUH KEBERSAMAAN SIATTING LIMA, SITONRA OLA, TESSIBELLEANG DALAM BINGKAI SPIRIT SUMANGE’ TEALLARA’ ”

Tema adalah suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal. Andaikan sebuah rumah, tema adalah fondasinya. Tema hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan atau kegiatan yang dilaksanakan. Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada sebuah kegiatan atau tulisan tersebut.

Saat ini masyarakat Bone tengah memperingati sebuah momentum yaitu Hari Jadi Bone, di mana dalam merayakan hari bersejarah tersebut pihak panitia telah membuat sebuah tema.

Tidak ada aturan yang mengikat tema harus menggunakan bahasa Indonesia apalagi sifatnya budaya. Meskipun demikian bisa saja menggunakan bahasa nasional tetapi bisa juga mencampur bahasa daerah dan nasional, dan tidak dilarang tema secara keseluruhan ditulis dalam bahasa lokal atau daerah.

Seperti halnya tema peringatan Hari Jadi Bone kali ini, dibuat dengan menyandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Bugis, yakni

DENGAN HARI JADI BONE KE-688, KITA PERTEGUH KEBERSAMAAN SIATTING LIMA, SITONRA OLA, TESSIBELLEANG DALAM BINGKAI SPIRIT SUMANGE’ TEALLARA’

Tema di atas saya anggap inspiratif karena sebelumnya tidak pernah menyusun tema Hari Jadi Bone dengan percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa Bugis (lokal). Ini patut diapresiasi.

Dalam tema itu terdapat kalimat Bugis seperti siatting lima, sitonra ola, tessibelleang, dan sumange teallara.

Tentu ada yang bertanya-tanya bahkan kalangan orang Bugis sendiri apalagi mereka yang tidak paham bahasa Bugis kuno, apakah arti dan makna bahasa siatting lima, sitonra ola, tessibelleang, dan sumange teallara itu ?.

Berikut Penjelasannya :

Kata Siatting lima artinya bergandengan tangan antara satu dengan yang lainnya. Hal itu bermakna, apabila sebuah pekerjaan dilakukan secara bersama-sama niscaya bisa berhasil sesuai diharapkan.

Kata Sitonra ola artinya berjalan searah, melangkah sesuai rencana. Hal ini bermakna jika sebuah pekerjaan yang dilandasi musyawarah, niscaya pekerjaan itu dapat berjalan sesuai diharapkan bersama.

Kata Tessibelleang artinya tidak saling menghianati dan menjatuhkan, serta saling mempercayai. Hal ini bermakna persatuan dan kesatuan yang kuat lahir dari rasa percaya antara satu dengan lainnya.

Selanjutnya, Sumange Teallara artinya teguh dalam keyakinan kukuh dalam kebersamaan. Hal ini bermakna, bahwa segala sesuatunya harus berawal dari niat suci dan dilakukan dengan tanggung jawab bersama sebagai warga Bone.

Oleh karena itu, siatting lima, sitonra ola, dan tessibelleang baru bisa terimplementasi jika dilandasi keyakinan dengan persatuan dan kesatuan yang kukuh oleh seluruh warga Bone itu sendiri di manapun ia berada.

Jadi untuk membangun Bone bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan masyarakat, serta golongan tertentu saja, akan tetapi tanggung jawab bersama seluruh orang Bone.

Akhirnya, marilah kita menjadikan Hari Jadi Bone sebagai momentum membangun BONE KAMPUNG HALAMAN dalam bingkai SUMANGE TEALLARA

Terima kasih,

oleh : Mursalim